Maqaama-m-Mahmuuda

Wa mina-l-laili fatahajjad bihi naafilata-l-laka, 'asaa an yab'atsaka Rabbuka maqaama-m-mahmuuda.

Di Antara Kalimat-kalimat

Yang terpenting adalah apa yang tetap tak terkatakan, atau apa yang mungkin terbaca di antara kalimat-kalimat.

Anak Kehidupan

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu ... Mereka adalah putra-putri kehidupan ... Kau bisa berikan kasih sayangmu ... Tapi tidak pikiranmu.

Kesalingsepakatan dan Ketidaksepakatan

Jadi, sebuah telatah pas untuk seorang penulis muda mengembangkan diri adalah situasi penuh percakapan, diskusi, cara-cara menunjukkan kesalingsepakatan, dan yang paling penting adalah cara tidak bersepakat.

Kesetiaan + Keteguhan + Konsistensi = Cara + Bentuk + Jalan

Kesetiaan akan mengilhami cara. Keteguhan memberi petunjuk tentang bentuk-bentuk. Konsistensi melahirkan jalan.

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Jangan biarkan daya mati jerat nurani. Jangan biarkan amarah membakar hati. Jangan biarkan keangkuhan menindas pekerti. Jangan biarkan bisikan setan meracuni diri. Jangan jumawa saat masih berkuasa. Jangan menepuk dada saat berjaya. Kejayaan itu fana kekuasaan itu hampa. Di atas langit masih ada langit..

Mendingan Setan

Kita memang harus berlindung kepada Tuhan dari orang-orang yang kepalanya pura-pura nyunggi Kitab Suci, yang bibirnya akting mencipok-cipoki ayat-ayatnya, tetapi itu semata-mata demi persekongkolannya dengan sang perut, kemudian mereka nanti bagi hasil dari penipuan-penipuannya. Orang yang begini masih mendingan setan atau demit.

Pasrah kepada Tuhan

"Menunduk-nunduk" itu bisa berarti sungguh-sungguh menunduk-nunduk, tetapi bisa juga berarti kekalahan dan kepatuhan di bawah suatu tiran kekuasaan yang tak semestinya dipatuhi ... Pasrah kepada Tuhan itu begitu nyaman. Ia sungguh-sungguh menyediakan kebahagiaan.

Saling ... Tanpa ... Tidak Akan ...

Persahabatan ini ... Tak lekang oleh waktu ... Saling memberi ... Tanpa rasa pamrih ... Saling menjaga ... Saling memahami ... Persaudaraan ini ... Lebih indah dari pelangi ... Saling mengingatkan ... Tanpa rasa benci ... Sahabat sejati ... Tak akan mengkhianati ....

Kebahagiaan

Kebahagiaan terbesar akan datang jika seseorang bertindak tidak demi kebahagiaan pribadinya.

Keberadaan

Mengingat (dan mencatat) yang sedang mereka perbincangkan adalah keberadaanku.

Alat dan Peluang, Kepekaan dan Pengetahuan

Angin tinggal menghembuskan cinta, pepohonan tinggal berdiri setia, tetapi manusia memiliki alat dan peluang untuk mengasah kepekaan dan pengetahuannya.

Di Tengah

Aku saat itu sedang belajar Memahami inti Kewajaran hidup dan kewajaran alam Berada di tengah-tengahnya Tidak merasa terjepit Tidak juga leluasa bergerak.

Ketahanan Terhadap Waktu

Kebiasaan-kebiasaan konsumtif membikin kita lebih banyak pasif. Langkah-langkah sering kurang kreatif-reputatif. Bahkan dalam menempuh cita-cita pun kalau bisa yang simpel saja. Jalan pintas. Praktis saja. Tidak mengeksplor pentingnya latihan ketahanan terhadap waktu.

Petarung Hidup

Kita bukanlah orang yang mudah menyerah ... Kita bukan orang yang mudah dikalahkan ... Kita pernah jatuh jatuh jatuh tersungkur ... Tapi bangkit lagi melangkah lebih pasti ...

Mudkhala Shidqin

Rabbii adkhilnii mudkhala shidqin wa akhrijnii mukhraja shidqin waj'alnii min-l-ladunka shulthaana-n-nashiira.

Qul!

Qul: Allahumma maalika-l-mulki tu'ti-l-mulka man tasyaa-u wa tanzi'u-l-mulka min-m-man tasyaa-u, wa tu'izzu man tasyaa-u wa tudzillu man tasyaa-u, bi yadika-l-khair, innaka 'alaa kulli syai-i-n-qadiir. Tuuliju-l-laila fi-n-nahaari wa tuuliju-n-nahaara fi-l-laili, wa tukhriju-l-hayya mina-l-mayyiti wa tukhriju-l-mayyita mina-l-hayyi, wa tarzuqu man tasyaa-u bighairi hisaab.

Mengolah

Di antara langit dan bumi: mengolah hidup; Di antara hitam dan putih: mengolah kepastian; Di antara suka dan duka: mengolah ketenangan; Di antara hidup dan mati: mengolah kegagahan..

Sunday, October 14, 2012

Penyakit Dalam

"Hampir saja Umayyah bin Abi ash-Shalt masuk Islam."

Lantunkan lagi, lantunkan lagi, lantunkan lagi. Demikian Muhammad saw. meminta asy-Syayid yang saat itu sedang diboncengnya di atas punggung unta untuk meneruskan lantunan bait-bait puisi Umayyah bin  Abi ash-Shalt. Setiap kali asy-Syayid berhenti pada satu bait, Muhammad saw. memintanya untuk meneruskan ke bait berikutnya, bait berikutnya, dan bait berikutnya hingga genap asy-Syayid melantunkan seratus bait puisi Umayyah bin Abi ash-Shalt.

Siapakah Umayyah bin Abi ash-Shalt dan sekuat apakah puisinya hingga Muhammad saw. berkenan meluangkan waktu untuk menikmati seratus bait puisinya?

Jika ada waktu luang, cobalah tanyakan pertanyaan di atas kepada beberapa kyai di sekitar Anda. Dan kemungkinan terbesar jawaban yang akan Anda dapatkan adalah gelengan kepala. Atau angkatan bahu: mana gua tahu?

Kitab Sahih Muslim pun tidak menyediakan ruang untuk menjawab pertanyaan di atas. Inilah alasan mengapa sikap terbaik adalah keterbukaan; kemauan untuk menelaah segala sesuatu tidak hanya dari satu sumber. Sebuah sikap dan kemauan yang akan mematangkan dan mendewasakan pengetahuan.

Menilik kepada riwayat lain di mana Muhammad saw. begitu kecewa kepada seorang khatib yang menganggap sepele pemilihan kata di mana "Allah dan Rasul-Nya" diringkas menjadi "keduanya", bisa didapatkan simpulan bahwa ketauhidan lah yang membuat Muhammad saw. berkenan meluangkan waktu untuk mendengarkan seratus bait puisi Umayyah bin Abi ash-Shalt.

Karena seratus bait puisi Umayyah bin Abi ash-Shalt itu memuat hasrat yang kuat terhadap ketauhidan. Satu di antaranya adalah apa yang oleh Muhammad saw. disebut sebagai ucapan penyair yang paling benar: Ketahuilah, apa saja selain Allah adalah bathil.

Maka, di situlah letak kekuatan puisi  Umayyah bin Abi ash-Shalt: tauhidullah.

Lantas bagaimana dengan Umayyah bin Abi ash-Shalt, pencipta seratus bait puisi itu? Muhammad saw. menyebutnya dengan "iman lidahnya kafir hatinya". Fakta bahwa Muhammad saw. lah yang dipilih menjadi rasulullah dan bukannya dia membuat Umayyah bin Abi ash-Shalt dijangkiti penyakit dalam berupa iri dan dengki. Pengetahuan yang ia dapat dari kitab-kitab ahli kitab tentang akan datangnya seorang utusan Allah membuat ia berharap bahwa dialah utusan itu.

Ketika ternyata Muhammad saw., limpahan pengetahuan ternyata gagal membuat Umayyah bin Abi ash-Shalt berendah hati untuk mengakui Muhammad saw. sebagai Nabi. Sia-sialah seratus bait puisinya yang dikagumi kekuatannya oleh Muhammad saw. di kemudian hari.

Jadi begitulah. Kebenaran adalah sesuatu yang sebenarnya bisa dilihat oleh siapapun. Hanya saja, kebanyakan kita memilih untuk menjadi Umayyah; memilih untuk menderita "penyakit dalam".

Sakura 225, 14 Oktober 2012 - 23:22

Tabungan Kemenangan


Dengan menyatu diri dalam putaran
Tak pernah akan kukuatirkan
Tentang segala yang diakhirkan
Sebagaimana tak pernah kupintakan
Agar segalanya diawalkan

Dengan menyeru diri lewat getaran
Tak pernah akan kutanyakan
Tentang segala yang dirahasiakan
Sebagaimana tak pernah kusebarkan
Rahasia yang pada ubun-ubunku ditancapkan

Dengan mengaku diri sebagai ketiadaan
Tak pernah akan kukembalikan
Segala yang kepada diriku pernah dilemparkan
: Kepada waktu batu-batu kutabungkan
Tanpa batu waktu-waktuku dimenangkan

Sakura 225, 14 Oktober 2012 – 00:42

Saturday, October 13, 2012

Benih Muhammad


Empat lebih seperempat
Dan lembar-lembar baju disengat
Dalam hangat tertumpuk beberapa lipat
Dan gerak menyisakan keringat

Seperempat lebih seperempat
Semangkok makanan instan disikat
Dalam lapar ditemukan nikmat
Dan serakah tidak mendapat tempat

Wahai jiwa yang dewasamu tebarkan pikat
Tidak di bibir kutanam shalawat
Tapi di suatu tempat yang tak terlihat
Bukankah menanam benih adalah
Meletakannya di bawah kerapatan tanah?

Sakura 225, 13 Oktober 2012 – 17:07

Tuesday, October 9, 2012

Khianat


Setelah mengucapkan salam, Khubaib bin Adi bergumam, “Ya Allah! Hitunglah jumlah mereka, binasakanlah mereka semua, dan janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara mereka tetap hidup.”

Kemudian Khubaib melantunkan syair:

Berbagai kekuatan telah berkumpul di sekitarku
Dan memanggil kabilah-kabilah mereka
Mereka mengumpulkan anak-anak dan wanita mereka
Dan aku didekatkan ke tiang tinggi yang dijaga
Kepada Allah aku mengadukan keterasingan dan kesedihanku
Serta kematianku yang diinginkan banyak orang
Wahai Dzat Pemilik Arsy! Sabarkanlah aku atas apa yang diinginkan dariku
Mereka memotong-motong badanku dan sudah tidak ada lagi keinginanku
Mereka menyuruhku memilih antara kekafiran dan kematian
Sungguh kedua mataku menangis tanpa air mata
Aku tidak peduli ketika aku dibunuh selama dalam keadaan muslim
Di belahan bumi mana pun aku mati di jalan Allah
Itu semua di jalan Allah, bila Ia berkehendak,
Ia memberkahi tubuhku yang dipotong-potong


Sebagian besar anggota pasukan pemanah memilih untuk menolak taat. Dari atas bukit mereka melihat betapa menggiurkannya rampasan perang. Takut tak kebagian, mereka pun turun. Sebuah sebab yang berakibat fatal. Namun juga sebuah sebab yang mendatangkan limpahan hikmat.

Mengenang Uhud adalah mengenang kalahnya kebenaran dalam sebuah pertandingan “terbuka”. Pertandingan yang jelas bahwa itu memang sebuah pertandingan. Sehingga mengenang Uhud adalah juga mengenang kemenangan sikap fair play atas kebenaran sekaligus atas ketidakbenaran.

Adapun jika kemudian pasukan Muhammad dinyatakan kalah oleh sejarah, sesungguhnya kekalahan itu bukan untuk merendahkan, melainkan sebuah metode ekstrim dari-Nya dalam rangka memilah dan memastikan tentang siapa yang benar-benar Muslim dan siapa yang ternyata munafik. Sejatinya Muslim akan memandang “kekalahan” itu sebagai ujian “kenaikan kelas” sehingga tetap teguh mentaati Muhammad, dan sebaliknya, Sejatinya Munafiq akan memandang “kekalahan” itu sebagai pembenaran terhadap kebukan mukminan yang bercokol dalam hati busuk mereka.

Maka kalah di Uhud bukanlah sebuah masalah. Bukankah mengakui kesalahan sekaligus mengakui kekalahan dalam sebuah “pertandingan” yang adil adalah perwujudan sikap jantan? Dan ujian, bukankah itu merupakan konsekuensi keMusliman?

Maka Muhammad tidak gundah meski “kekalahan” di Uhud itu demikian “dahsyat”. Kegundahan muncul justru ketika enam orang sahabat yang berangkat menunaikan amanat justru dibunuh oleh kelompok yang meminta kehadiran mereka sebagai pengajar agama bagi orang-orang dalam kelompok mereka.

“Ini merupakan awal pengkhianatan,” kata sahabat ketiga ketika ia tetap menolak untuk menyerahkan diri sebagai tawanan. Empat sahabat dibunuh di tempat (ar-Raji’), sementara Khubaib bin Adi dan Zaid bin Ad-Datsinnah ditawan untuk dibunuh di tempat lain (Mekkah).

Peristiwa (baca: pengkhianatan) serupa juga terjadi di tempat lain. Tujuh puluh sahabat dikirim ke Najd atas permintaan penduduk Najd sendiri yang meminta dikirimkan kepada mereka pengajar-pengajar agama. Dalam perjalanan menuju Najd, tepatnya di Bi’r Ma’unah, pembantaian terjadi. Kecuali Ka’ab bin Zaid bin an-Najjar yang berpura-pura mati, tak ada yang selamat dalam pembantaian berbasis siasat dan khianat ini.

Dari tuturan sejarah ditemukan adanya perbedaan sikap Muhammad antara sikapnya terhadap “kekalahan” di Uhud dengan “kekalahan” di ar-Raji’ dan Bi’r Ma’unah. Sebuah perbedaan sikap yang menunjukkan kegundahan Muhammad terhadap aplikasi dan konsekuensi dari sikap khianat.

Tidak seperti usai “kekalahan” di Uhud, usai tragedi ar-Raji’ dan Bi’r Ma’unah, tiga puluh Shubuh berturut-turut Muhammad memanjatkan doa Qunut: “Ya Allah! Selamatkanlah al-Walid bin al-Walid, Salamah bin Hisyam, ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah, dan orang-orang mukmin yang lemah! Dahsyatkanlah tekanan-Mu terhadap kabilah Mudharr, dan jadikanlah tahun-tahun mereka seperti tahun-tahun derita yang dialami oleh Yusuf. Ya Allah! Kutuklah suku Ri’lan, suku Dzakwan, dan suku Ushaiyyah, karena mereka mendurhakai Allah dan rasul-Nya.”

Sebagai respon terhadap kegundahan Muhammad yang terwujud dalam doa Qunut tersebut, turunlah Ali Imran ayat 128: Kamu tidak berwenang sedikitpun mencampuri urusan itu, karena mungkin Allah akan menerima tobat mereka atau menyiksa mereka, sebab mereka adalah orang-orang yang dzalim.

Maka berhentilah Qunut. Maka bergantilah gundah menjadi pasrah. Maka berjayalah orang-orang yang pasrah atas orang-orang dzalim. Secermat apapun tipu muslihat diprogram dan diaplikasikan oleh orang-orang khianat.

Sakura 225, 9 Oktober 2012 – 21:33

Sunday, October 7, 2012

Satu dari Beberapa Riwayat tentang Bacaan dalam Shalat


حدثنا محمد ابن أبى بكر المقدمى. حدثنا يوسف الماجشون. حدثنى أبى عن عبد الرحمن الأعرج، عن عبيد الله بن أبى رافع، عن علي بن أبى طالب، عن رسول الله صلى الله عليه و سلم؛ أنه كان إذا قام إلى الصلاة قال ((وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِى فَطَرَ السماواتِ و الأرْضِ حنِيْفاً و ما أنا مِن المشركين. إنّ صلاتى و نُسُوكِى و مَحْياىَ و مماتِى لله رب العالمين لا شريك له و بذلك أُمِرْتُ و أنا من المسلمين. اللهم أنت المَلِكُ لا إله إلا أنت. أنت ربِّى و أنا عبدُك. ظلمْتُ نفْسِى و اعْترفْتُ بذنْبِى فاغْفِرْلى ذُنُوْبِى جمِيْعا. إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت. و اهدنى لأحسن الأخلاق لا يهدى لأحسنها إلا أنت. و اصْرِفْ عنِّى سيِّىءَها لا يَصْرْفُ عنى سيىءها إلا أنت. لبيك! و سعديك! و الخيرُ كلُّه فى يديك. و الشر ليس إليك. أنا بك و إليك. تباركت و تعاليت. أستغفرك و أتوب إليك)).

و إذا ركع قال ((اللهم لك ركعتُ! و بك آمنْتُ. و لك أسلمتُ. خشَع لك سمْعِى و بصَرى و مُخـِّى و عَظْمِى و عَصَبى)).

و إذا رفع قال ((اللهم! ربنا لك الحمد مِلْءَ السماوات و ملء الأرض و ملء ما بينهما و ملء شِـئْتَ مِن شىءٍ بعْدُ)).

و إذا سجَد قال ((اللهم! لك سجَدْتُ. و بِك آمنت. و لك أسْلمْت. سجَد وجْهى للذى خلَقهُ و صوّرهُ، و شَقَّ سَمْعَه و بصَره. تبارك الله أحسنُ الخالقين)).

ثم يكون من آخر ما يقول بين التشهد و التسليم ((اللهم! اغْفرلى ما قدَّمْتُ و ما أخرت. و ما أسررْت و ما أعلنْت. و ما أسرفْت. و ما أنت أعلم به منى. أنت المُقدِّمُ و أنت المؤخِّر. لا إله إلا أنت)).

***

صحيح مسلم للإمام أبى الحسين مسلم بن الحجاجالقشيرى النيسابورىّ. الجزء الأول. 1991. بيروت: دار الكتب العلمية. ص. 534-536. 
***

Muhammad bin Abi Bakr al-Muqaddami – Yusuf al-Majisyun – Bapaknya Yusuf al-Majisyun – Abdurrahman al-A’raj – Ubaidillah bin Abi Rafi’- Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah saw., bahwasanya ketika beliau berdiri melakukan shalat beliau mengucapkan: “Kuhadapkan wajahku kepada Allah yang telah menciptakan beberapa langit dan bumi dengan penyerahan diri sepenuhnya, dan aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibdahku, hidupku, matiku, adalah bagi Allah, Tuhan alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku diperintahkan demikian itu, serta aku aku adalah golongan orang-orang yang berserah diri kepada Allah. Ya Allah! Engkaulah Maharaja, tiada Tuhan selain Engkau, Engkau Tuhanku, aku hamba-Mu, aku telah berbuat dzalim terhadap diriku sendiri, aku akui dosaku, maka ampunilah segala dosaku, karena tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau. Bimbinglah aku kepada sebaik-baik akhlak, karena tidak ada yang membimbing ke arah itu kecuali Engkau. Hindarkanlah aku dari dari sejelek-jelek akhlak, karena hanya Engkaulah yang kuasa menghindarkannya. Aku datangi panggilan-Mu, sedangkan kejelekan tidak berasal dari-Mu.Aku ada karena-Mu dan akan kembali kepada-Mu. Maha Suci Engkau, aku memohon ampunan dan bertobat kepada-Mu.”

Apabila beliau rukuk, beliau mengucapkan, “Ya Allah! Aku rukuk kepada-Mu, aku beriman dengan-Mu, aku berserah diri kepada-Mu. Pendengaranku, penglihatanku, pikiranku, tulangku, dan semua anggota tubuhku merunduk kepada-Mu.”

Ketika bersujud beliau mengucapkan, “Ya Allah! Kepada-Mu aku bersujud, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Tuhan yang telah menciptakan wajah, yang telah membuat pendengaran dan penglihatan di kepala. Maha Suci Allah, Dia-lah sebaik-baik pencipta.”

Kemudian di akhir antara tahiyyat dan salam beliau mengucapkan, “Ya Allah! Ampunilah dosa yang telah dan belum aku perbuat, dosa yang samar dan dosa yang jelas, dosa karena aku berbuat melampaui batas, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkaulah yang mendahulukan dan Engkaulah yang mengakhirkan. Tiada Tuhan selain Engkau.
      

Ketika Pemeluk Ketakutan kepada yang Dipeluk: Refleksi terhadap Bunyi “keTuhanan, dengan Kewadjiban Mendjalankan Sjari’at Islam bagi Pemeluk-pemeluknja”

Tak ada yang perlu disesali dari sejarah. Sebesar dan separah apapun kebenaran dalam sejarah itu telah diubah. Demi kepentingan segelintir rubah. Demikianlah selayaknya sikap kita, terutama umat Islam, terhadap Piagam Jakarta. Meskipun yang telah diubah itu sebenarnya bisa kembali diubah ke arah yang tepat.

Arah yang tepat dan bukannya arah yang benar, karena isi Piagam Jakarta itu sebenarnya sudah benar. Ke Tuhan, ke manusia, ke rakyat sudah tercantum di sana. Maka Piagam Jakarta benarlah sudah. Apalagi, dalam rangka ke Tuhan; dalam rangka menuju Tuhan, metode menuju-Nya pun disertakan: dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja.

Piagam Jakarta sudah benar namun kemudian menjadi kurang tepat seiring diadakannya perubahan dengan menghapus metode menuju Tuhan. Padahal, negeri dengan penduduk mayoritas pemeluk Islam ini bisa dipastikan bahwa tidak seluruh penduduknya yang memeluk Islam tahu “cara menuju Tuhan”.

Alhasil, jadilah Indonesia seperti sekarang: terombang-ambing, melayang-layang.

Ada yang menyatakan bahwa penghapusan (baca: perubahan) itu demi Persatuan Indonesia. Argumentasi ini benar, tapi tidak tepat. Sesungguhnyalah yang mempersatukan Indonesia adalah Islam, dan bukan nasionalisme. Belanda datang dengan tujuan utama tidak untuk menjajah dan menjarah kekayaan alam Indonesia, melainkan untuk menjajah dan menjarah keyakinan terdalam mayoritas rakyat Indonesia: Islam, sehingga perlawanan terhadap Belanda pun, jika dipelajari lebih mendalam, lebih berbasis semangat “jihad” daripada semangat nasionalisme. Dari Perang Badar rakyat Islam Indonesia belajar bahwa kedzaliman harus dilawan dan bahwa kecanggihan senjata dan jumlah pasukan bukan faktor utama penentu kemenangan.

Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan Persatuan Indonesia.

Tapi “kehatia-hatian” para founding father Indonesia tampaknya lupa kepada sungguh-sungguhnya kenyataan tersebut. Akhirnya, akar “dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja” pun tercabut. Sehingga kini keadaan Indonesia bagai gajah bermental semut.

Yang menyedihkan, ketika “akar” tersebut coba dikemukakan faktanya di kemudian hari, sekelompok pemeluk Islam mati-matian membela keputusan penncabutan akar tersebut. Dengan dalih yang tidak lebih canggih dari dalih dulu kala: demi Persatuan Indonesia.

Tidak berhenti di situ, “sekelompok” yang ternyata berjumlah sangat besar itu bahkan balik melabeli pihak-pihak yang mencoba mengembalikan “akar” itu ke tempat semula dengan label “perlu diwaspadai”.

Mulialah “sekelompok” itu atas kewaspadaan mereka terhadap pihak-pihak yang mereka anggap sebagai perongrong Persatuan Indonesia.

Tetapi, sudah tepatkah kewaspadaan “sekelompok” itu, “sekolompok” yang nyatanya adalah pemeluk Islam? Tidak terlintaskah di pikiran “sekelompok” itu bahwa “kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja” sama sekali tidak bersinggungan dengan Persatuan Indonesia? Tidak terlintaskah di pikiran “sekelompok” itu, bahwa “kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja” sama sekali tidak ada kaitannya dengan isu “Negara Islam”? Tidak terlintaskah di pikiran “sekelompok” itu bahwa mereka sesungguhnya telah tertipu dan terpengaruh oleh isu-isu dan propaganda-propaganda anti Islam yang salah satu bentuknya berupa lahirnya terorisme yang tak lain adalah hasil persetubuhan Polisi Dunia dengan Pelacur Bangsa? Tidak terlintaskah di pikiran “sekelompok” itu bahwa Persatuan Indonesia, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Permusyawaratan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, justru hanya bisa terwujud dengan sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya jika pemeluk-pemeluk Islam “dikenai” kewajiban untuk menjalankan syariat Islam?

Pada sebagian besar hari, saya berada di tengah-tengah para aparat Pemerintah Republik Indonesia. Pada sebagian besar hari pula saya menyaksikan bahwa hanya saya sendiri dari sekian banyak aparat itu yang berangkat ke masjid untuk mengerjakan shalat Dhuhur. Pada sebagian besar hari pula saya menyaksikan aparat-aparat itu mencuri di siang hari. Pada sebagian besar hari pula saya menyaksikan aparat menipu rakyat. Pada sebagian besar hari pula saya mendengar aparat-aparat itu menceritakan kisah perzinaan mereka, juga kisah perzinaan aparat yang lain.

Ironisnya, aparat-aparat yang saya saksikan dan saya dengarkan itu, berdasarkan KTP, semuanya pemeluk Islam.

Mendirikan shalat, tidak “mencuri”, tidak menipu, tidak semena-mena, tidak berzina, merupakan bagian dari syariat islam yang diwajibkan bagi pemeluk-pemeluknya. Jadi, kalau “sekelompok” itu takut setengah mati kepada bunyi “dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja”, ada dua kesimpulan yang bisa dikemukakan. Pertama, “Sekelompok” itu (termasuk yang mendukungnya maupun yang didukungnya) bisa jadi adalah juga pencuri, penipu, dan pezina. Kedua, itulah komedi akhir hari, hari di mana orang Islam takut kepada Islam.

Dan kalau aparat-aparatnya, pemimpin-pemimpinnya, ulama-ulamanya tak lagi “mendirikan” shalat, menjadikan pencurian dan penipuan sebagai kebaikan, dan mennganggap perzinaan sebagai hal yang lumrah dan wajar, masih bersatukah Indonesia kini?

Sakura 225, 07 Oktober 2012 – 01:30

Saturday, October 6, 2012

Dengan Menyebut Nama Saya

Saya menyukai sejarah. Sejarah apa saja. Mulai dari sejarah rerumputan hingga sejarah Tuhan. Tetapi kepada sejarah saya juga perlu meminta maaf: saya termasuk jenis manusia yang tidak mudah percaya kepada apa kata sejarah. Maksud saya, kepada siapa yang mengatakan sejarah.

Sejarah, menurut saya adalah sebuah wadah yang setengah lebihnya berisi darah. Dengan demikian, karena darah mengalir ke berbagai arah, juga karena banyaknya pihak yang berkepentingan terhadap bagaimana dan kemana darah mengarah, maka sejarah juga adalah sebuah disiplin ilmu yang tak bisa lepas dari kemungkinan besar tabrakan.

Atas dasar definisi tersebut, kepada Indonesia saya perlu minta maaf: sudah sejak lama saya tidak hadir ke lapangan untuk mengikuti upacara peringatan. Apapun judul peringatan itu. Dari sini saya lihat ada tabrakan sejarah, misalnya pada tanggal 2 dan 20 Mei. Menurut saya, bukan Ki Hajar Dewantara dan bukan Budi Utomo pondasi dari Pendidikan dan Kebangkitan negeri ini melainkan ada orang dan ada organisasi yang lebih berhak untuk disebut sebagai pondasi bagi dua hal mulia tersebut.

Pada beberapa tanggal yang lain pun saya lihat pula ada tabrakan serupa.

Saya melihat ada muatan kepentingan pada momen peringatan tanggal-tanggal bersejarah tersebut, persis seperti muatan kepentingan yang saya lihat pada momen peringatan kesekian hari meninggal dunianya Gus Dur.

Sepanjang perjalanan dari tempat kediaman menuju suatu tempat keramaian yang kira-kira berjarak sepanjang 5 kilometer, tak seperti biasanya, sebagian besar masjid yang saya lewati tampak ramai. Ramai, tapi tidak makmur. Keramaian yang disebabkan oleh meninggal dunianya Gus Dur seribu hari yang lalu.

Karena yang meninggal dunia seribu hari yang lalu adalah Gus Dur dan bukan Ahmad Sukino, maka seharusnya “masjid MTA” pada malam itu tak perlu ramai. Tapi alangkah kagetnya saya, “masjid MTA” pun ikut ramai. Memperingati seribu hari meninggal dunianya Gus Dur-kah MTA?

Tentu tidak. Di sana, di “masjid MTA” itu, ada muatan kepentingan yang bernama show of power, juga show of people. Karena “masjid-masjid NU” pun sebenarnya tidak benar-benar memperingati kebaikan-kebaikan Gus Dur, melainkan di “masjid-masjid NU” itu, dengan memanfaatkan momentum sejarah, lebih dulu dimuati kepentingan yang sama: show of power dan show of people.

Mereka lupa bahwa yang diperintahkan oleh Tuhan adalah “berlomba”, bukan “bertanding”: fastabiqu-l-khairaat ...

“Bertanding” mutlak memerlukan musuh yang harus dihadapi secara langsung. Tidak demikian dengan “berlomba”. Bandingkan antara “pertandingan tinju” dengan “lomba menulis”, atau “pertandingan sepakbola” dengan “lomba kebersihan”.

Ber-Islam berarti berlomba, bukan bertanding. Islam adalah kekhusyukan dan ketenangan; adalah kemenangan tanpa sorak sorai dan gegap gempita. Maka Islam bukanlah keramaian dan keriuh rendahan. Tidak pula kecerobohan untuk terperosok dalam lubang-lubang perangkap berupa fanatisme kelompok sehingga dalam diri masing-masing kelompok tumbuh kesombongan untuk mengganti “Dengan Menyebut Nama Allah” dengan “Dengan Menyebut Nama Saya”.

Sakura 225, 06 Oktober 2012 – 23:12

Panggil Aku Kemungkinan



Aku mungkin miskin
Tapi ketika kunci rahasia
Dipinjamkan dan digenggamkan
Maka aku mungkin kaya

Aku mungkin biasa
Atau tak jelas awal dan akhirnya
Tapi ketika sumber cahaya
Ridha membungkusku
Maka selamat tinggal kegelapan
Dan persetan dengan kesombongan bodohmu

Aku mungkin pandai
Tapi ketika kesadaran
Didatangkan dan ditamparkan ke mukaku
Maka tampaklah kebodohanku
Dan bertekuk lututlah kesombongan bodohku

Aku mungkin mulia
Tapi ketika Ia yang lebih dekat dari urat nadi
Tak rela pakaian-Nya aku pakai
Telanjanglah aku
Tangan terkulai: tiada daya menutup muka

Maka panggil aku kemungkinan:
Aku mungkin kau campakkan
Aku mungkin memaafkan
Aku mungkin diperjalankan
Aku mungkin ditempat tinggikan
Meninggalkan kerendahan
Yang di sana dulu aku engkau campakkan
Yang di sana pula nanti engkau mungkin dicampakkan

Sakura 225, 06 Oktober 2012 – 23:18