Maqaama-m-Mahmuuda

Wa mina-l-laili fatahajjad bihi naafilata-l-laka, 'asaa an yab'atsaka Rabbuka maqaama-m-mahmuuda.

Di Antara Kalimat-kalimat

Yang terpenting adalah apa yang tetap tak terkatakan, atau apa yang mungkin terbaca di antara kalimat-kalimat.

Anak Kehidupan

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu ... Mereka adalah putra-putri kehidupan ... Kau bisa berikan kasih sayangmu ... Tapi tidak pikiranmu.

Kesalingsepakatan dan Ketidaksepakatan

Jadi, sebuah telatah pas untuk seorang penulis muda mengembangkan diri adalah situasi penuh percakapan, diskusi, cara-cara menunjukkan kesalingsepakatan, dan yang paling penting adalah cara tidak bersepakat.

Kesetiaan + Keteguhan + Konsistensi = Cara + Bentuk + Jalan

Kesetiaan akan mengilhami cara. Keteguhan memberi petunjuk tentang bentuk-bentuk. Konsistensi melahirkan jalan.

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Jangan biarkan daya mati jerat nurani. Jangan biarkan amarah membakar hati. Jangan biarkan keangkuhan menindas pekerti. Jangan biarkan bisikan setan meracuni diri. Jangan jumawa saat masih berkuasa. Jangan menepuk dada saat berjaya. Kejayaan itu fana kekuasaan itu hampa. Di atas langit masih ada langit..

Mendingan Setan

Kita memang harus berlindung kepada Tuhan dari orang-orang yang kepalanya pura-pura nyunggi Kitab Suci, yang bibirnya akting mencipok-cipoki ayat-ayatnya, tetapi itu semata-mata demi persekongkolannya dengan sang perut, kemudian mereka nanti bagi hasil dari penipuan-penipuannya. Orang yang begini masih mendingan setan atau demit.

Pasrah kepada Tuhan

"Menunduk-nunduk" itu bisa berarti sungguh-sungguh menunduk-nunduk, tetapi bisa juga berarti kekalahan dan kepatuhan di bawah suatu tiran kekuasaan yang tak semestinya dipatuhi ... Pasrah kepada Tuhan itu begitu nyaman. Ia sungguh-sungguh menyediakan kebahagiaan.

Saling ... Tanpa ... Tidak Akan ...

Persahabatan ini ... Tak lekang oleh waktu ... Saling memberi ... Tanpa rasa pamrih ... Saling menjaga ... Saling memahami ... Persaudaraan ini ... Lebih indah dari pelangi ... Saling mengingatkan ... Tanpa rasa benci ... Sahabat sejati ... Tak akan mengkhianati ....

Kebahagiaan

Kebahagiaan terbesar akan datang jika seseorang bertindak tidak demi kebahagiaan pribadinya.

Keberadaan

Mengingat (dan mencatat) yang sedang mereka perbincangkan adalah keberadaanku.

Alat dan Peluang, Kepekaan dan Pengetahuan

Angin tinggal menghembuskan cinta, pepohonan tinggal berdiri setia, tetapi manusia memiliki alat dan peluang untuk mengasah kepekaan dan pengetahuannya.

Di Tengah

Aku saat itu sedang belajar Memahami inti Kewajaran hidup dan kewajaran alam Berada di tengah-tengahnya Tidak merasa terjepit Tidak juga leluasa bergerak.

Ketahanan Terhadap Waktu

Kebiasaan-kebiasaan konsumtif membikin kita lebih banyak pasif. Langkah-langkah sering kurang kreatif-reputatif. Bahkan dalam menempuh cita-cita pun kalau bisa yang simpel saja. Jalan pintas. Praktis saja. Tidak mengeksplor pentingnya latihan ketahanan terhadap waktu.

Petarung Hidup

Kita bukanlah orang yang mudah menyerah ... Kita bukan orang yang mudah dikalahkan ... Kita pernah jatuh jatuh jatuh tersungkur ... Tapi bangkit lagi melangkah lebih pasti ...

Mudkhala Shidqin

Rabbii adkhilnii mudkhala shidqin wa akhrijnii mukhraja shidqin waj'alnii min-l-ladunka shulthaana-n-nashiira.

Qul!

Qul: Allahumma maalika-l-mulki tu'ti-l-mulka man tasyaa-u wa tanzi'u-l-mulka min-m-man tasyaa-u, wa tu'izzu man tasyaa-u wa tudzillu man tasyaa-u, bi yadika-l-khair, innaka 'alaa kulli syai-i-n-qadiir. Tuuliju-l-laila fi-n-nahaari wa tuuliju-n-nahaara fi-l-laili, wa tukhriju-l-hayya mina-l-mayyiti wa tukhriju-l-mayyita mina-l-hayyi, wa tarzuqu man tasyaa-u bighairi hisaab.

Mengolah

Di antara langit dan bumi: mengolah hidup; Di antara hitam dan putih: mengolah kepastian; Di antara suka dan duka: mengolah ketenangan; Di antara hidup dan mati: mengolah kegagahan..

Saturday, October 6, 2012

Dengan Menyebut Nama Saya

Saya menyukai sejarah. Sejarah apa saja. Mulai dari sejarah rerumputan hingga sejarah Tuhan. Tetapi kepada sejarah saya juga perlu meminta maaf: saya termasuk jenis manusia yang tidak mudah percaya kepada apa kata sejarah. Maksud saya, kepada siapa yang mengatakan sejarah.

Sejarah, menurut saya adalah sebuah wadah yang setengah lebihnya berisi darah. Dengan demikian, karena darah mengalir ke berbagai arah, juga karena banyaknya pihak yang berkepentingan terhadap bagaimana dan kemana darah mengarah, maka sejarah juga adalah sebuah disiplin ilmu yang tak bisa lepas dari kemungkinan besar tabrakan.

Atas dasar definisi tersebut, kepada Indonesia saya perlu minta maaf: sudah sejak lama saya tidak hadir ke lapangan untuk mengikuti upacara peringatan. Apapun judul peringatan itu. Dari sini saya lihat ada tabrakan sejarah, misalnya pada tanggal 2 dan 20 Mei. Menurut saya, bukan Ki Hajar Dewantara dan bukan Budi Utomo pondasi dari Pendidikan dan Kebangkitan negeri ini melainkan ada orang dan ada organisasi yang lebih berhak untuk disebut sebagai pondasi bagi dua hal mulia tersebut.

Pada beberapa tanggal yang lain pun saya lihat pula ada tabrakan serupa.

Saya melihat ada muatan kepentingan pada momen peringatan tanggal-tanggal bersejarah tersebut, persis seperti muatan kepentingan yang saya lihat pada momen peringatan kesekian hari meninggal dunianya Gus Dur.

Sepanjang perjalanan dari tempat kediaman menuju suatu tempat keramaian yang kira-kira berjarak sepanjang 5 kilometer, tak seperti biasanya, sebagian besar masjid yang saya lewati tampak ramai. Ramai, tapi tidak makmur. Keramaian yang disebabkan oleh meninggal dunianya Gus Dur seribu hari yang lalu.

Karena yang meninggal dunia seribu hari yang lalu adalah Gus Dur dan bukan Ahmad Sukino, maka seharusnya “masjid MTA” pada malam itu tak perlu ramai. Tapi alangkah kagetnya saya, “masjid MTA” pun ikut ramai. Memperingati seribu hari meninggal dunianya Gus Dur-kah MTA?

Tentu tidak. Di sana, di “masjid MTA” itu, ada muatan kepentingan yang bernama show of power, juga show of people. Karena “masjid-masjid NU” pun sebenarnya tidak benar-benar memperingati kebaikan-kebaikan Gus Dur, melainkan di “masjid-masjid NU” itu, dengan memanfaatkan momentum sejarah, lebih dulu dimuati kepentingan yang sama: show of power dan show of people.

Mereka lupa bahwa yang diperintahkan oleh Tuhan adalah “berlomba”, bukan “bertanding”: fastabiqu-l-khairaat ...

“Bertanding” mutlak memerlukan musuh yang harus dihadapi secara langsung. Tidak demikian dengan “berlomba”. Bandingkan antara “pertandingan tinju” dengan “lomba menulis”, atau “pertandingan sepakbola” dengan “lomba kebersihan”.

Ber-Islam berarti berlomba, bukan bertanding. Islam adalah kekhusyukan dan ketenangan; adalah kemenangan tanpa sorak sorai dan gegap gempita. Maka Islam bukanlah keramaian dan keriuh rendahan. Tidak pula kecerobohan untuk terperosok dalam lubang-lubang perangkap berupa fanatisme kelompok sehingga dalam diri masing-masing kelompok tumbuh kesombongan untuk mengganti “Dengan Menyebut Nama Allah” dengan “Dengan Menyebut Nama Saya”.

Sakura 225, 06 Oktober 2012 – 23:12

Panggil Aku Kemungkinan



Aku mungkin miskin
Tapi ketika kunci rahasia
Dipinjamkan dan digenggamkan
Maka aku mungkin kaya

Aku mungkin biasa
Atau tak jelas awal dan akhirnya
Tapi ketika sumber cahaya
Ridha membungkusku
Maka selamat tinggal kegelapan
Dan persetan dengan kesombongan bodohmu

Aku mungkin pandai
Tapi ketika kesadaran
Didatangkan dan ditamparkan ke mukaku
Maka tampaklah kebodohanku
Dan bertekuk lututlah kesombongan bodohku

Aku mungkin mulia
Tapi ketika Ia yang lebih dekat dari urat nadi
Tak rela pakaian-Nya aku pakai
Telanjanglah aku
Tangan terkulai: tiada daya menutup muka

Maka panggil aku kemungkinan:
Aku mungkin kau campakkan
Aku mungkin memaafkan
Aku mungkin diperjalankan
Aku mungkin ditempat tinggikan
Meninggalkan kerendahan
Yang di sana dulu aku engkau campakkan
Yang di sana pula nanti engkau mungkin dicampakkan

Sakura 225, 06 Oktober 2012 – 23:18

Gumam Batin Pengembara


Kemana ayun langkah
Hai, penjelajah jauh
Mengembara mencari jati diri
Bergulat mengatasi derita
Menghindar goda kemilau dunia
Mendaki ke bukit cita
Dalam penjelajahan batin
Yang tak kunjung usai

Apa yang kau lakukan
Hai, musafir
Merumuskan pertanyaan
Menguji jawaban
Mengamat gelagat alam
Merenung makna
Mengukir karya
Menghayat hembus nafas
Menyatu dengan Sang Maha
Ikhlas mensyukuri hidup

Mengingat aku hanyalah sebutir pasir 
Di padang gurun yang tak bertepi

Wahai petualang pemburu keingintahuan
Sesibuk apapun pusatkan daya cipta
Seindah apapun palingkan fatamorgana
Serumit apapun daulatkan hukum kehidupan

Hidup indah dengan membuat keindahan
Hidup bermakna dengan membuat makna
Teruslah melangkah ke tujuan tanpa henti
Ciptakan jejak sejarah sebagai warisan


Tuesday, October 2, 2012

Asu!

Aku tulis surat ini tak berapa lama setelah kulepas kaos diamond abituren yang total basah. Bukan oleh air melainkan keringat. Bukan pada siang melainkan malam. Bukan karena udara panas melainkan hati panas.

Hati panas yang coba kudinginkan dengan meladeni lembar demi lembar kertas, yang kesemuanya bertuliskan data-data palsu, kata-kata palsu, angka-angka palsu, tanda tangan-tanda tangan palsu. Asu!

Hanya kepada-Nya aku mengadu. Maka jangan tak kau baca suratku ini. Aku tahu, jutaan manusia telah mengadu kepadamu, mengadukan kepalsuan-kepalsuan yang memerangkap mereka. Dari waktu ke waktu. Aku tidak mau menambah jumlah pengadu. Dan sekali-kali tidak bersedia menambah jumlah pengadu domba.

Aku pun tahu, kepada manusia-manusia yang bercita-cita meneladani Muhammad, ketika manusia-manusia itu mengeluh dan mengadu kepadamu, hanya satu sikapmu: menancapkan tajam matamu dan berlalu: menjadi Muhammad adalah keikhlasan untuk dituduh, difitnah, diperdaya, dijebak, dihambat, dicegat, dikepung, disuguhi kotoran unta, diguyur debu, dan dilempari batu-batu.

Jadi tak hendak aku mengadu. Aku hanya hendak menulis sebuah surat. Sebab Tuhan seakan tak memberiku kesempatan untuk sekadar curhat dan sejenak bersistirahat. Silih berganti orang datang, hanya untuk satu: mengakaliku.

Pernah aku sampaikan hal ini kepada satu dari manusia-manusia yang bercita-cita meneladani Muhammad, ia tertawa. Seakan-akan keadaanku ini sedemikian entengnya. Untungnya ia berkata, “Shibgatallah, saudaraku ... shibgatallah ... Bukankah sejak dulu kala engkau bercita-cita menjadi manusia tanpa warna? Kemudian, semua yang menimpamu adalah ayat yang harus kau baca dengan wa rattili-l-quraana tartiila ...”

Belum kumengerti benar apa maksud saudaraku itu. Karena itulah aku tulis surat ini. Kepadamu. Jika pun tanggapanmu terhadap suratku ini lebih tidak bisa kupahami, tidak menjadi masalah bagiku. Akan kuanggap surat ini sebagai sebagai obat rinduku kepadamu, kepada sesama manusia pencinta Muhammad, kepada sesama manusia yang memilih untuk tidak memilih, kepada sesama manusia yang mengatur untuk tidak mengatur.

Engkau sudah di sana, dan aku baru di sini. Terlampau jauh jarak ke-Muhammad-an kita. Engkau hampir mencapainya, atau bahkan sudah, sedangkan aku baru memulai langkah pertama, atau mungkin langkah kedua. Dan pada langkah itu, sesekali aku pun masih tergoda. Dan sesekali pula menyerah pada kekuasaan ciptaan manusia. Ah, andai bukan karena keteguhan yang telah kau contohkan, tentu sudah lepas kesadaran diri ini sejak jauh-jauh hari. Dan serupalah aku dengan mereka.

Ya, mereka. Mereka yang sekarang ini mengepungku. Juga mereka yang sebelum ini melempariku dengan batu-batu.

Mereka yang sekarang ini, saudaraku, mencoba membuatku serupa dengan mereka. Mencoba membuat warnaku sama dengan warna mereka. Ada yang menggunakan bujuk rayu, ada yang menggunakan retorika, ada yang menggunakan tongkat kuasa.

Saudaraku, tahukah engkau suara apa yang menggelegak dalam kalbuku ketika silih berganti mereka mendatangiku? Asu! Aku bukan orang lugu. Aku hanya mencoba hidup jujur dan bersikap lembut. Kalau kejujuran dan kelembutan ini kalian tafsirkan sebagai keluguan, maka tunggulah saatnya Tuhan nebang gulumu dengan tangan kalian sendiri.

Saudaraku, sebenarnya aku agak malu. Kata-kata dan sikap-sikapku selama ini seakan-akan menunjukkan aku sangat dekat dengan Tuhan, sedangkan aku sendiri tak jarang melangkah menjauh dari posisi berdiri-Nya. Ah, semoga Tuhan memaklumi ketaktahumaluanku ini.

Saudaraku, haruskah aku bergabung dengan keserakahan yang mereka agung-agungkan itu? Haruskah aku sewarna dengan warna kehinaan yang mereka yakini sebagai kehormatan itu?

Jawablah, saudaraku! Maksudku bukan jawaban ya atau tidak. Tapi jawablah dengan energi apa harus kubendung arus deras itu seorang diri? Energi jamaah? Sedangkan jamaah masjid pun sudah tak punya sisa energi. Energi sistem birokrasi? Sedangkan dalam hal ini mereka teramat ahli. Energi berdiam diri? Sedangkan diamku pun jadi bahan akal-akalan edisi berikutnya.

Saudaraku, kuberitahu engkau sebuah peristiwa di mana pada suatu pagi dipanggil menghadap Kepala Dinasku. Panggilan itu pun tentu berdasarkan fitnah mereka yang kemudian dijadikan bahan laporan kepada Kepala Dinasku. Sedangkan Kepala Dinasku pun tampaknya juga punya misi tersendiri terhadapku, sehingga di sela-sela saran dan arahan, sempat ia berujar kepadaku, “Sebaiknya jangan terlalu banyak membaca Alquran.”

Asu! Tentu saja hewan ini kukurung dalam hatiku. Tinggal sorot matanya saja yang kukeluarkan. Maka tajam-tajam kutatap mata kepala Dinasku. Setajam taring anjing yang siap ditancapkan ke jiwa anjing yang berada di depannya. Maka seketika itu juga berubahlah Alquran menjadi koran.

Ah, alangkah lucunya. Lebih lucu lagi, anjuran untuk tidak terlalu banyak membaca Alquran itu dilontarkan juga di hadapan seorang tokoh NU yang duduk di sebelah kananku. Aku sampai berpikir, kalau ada tokoh semacam ini, yang lucu itu NU-nya atau tokohnya?

Yang lain lagi, pada kesempatan itu, aku juga diberi contoh dari sebuah film yang dibintangi oleh Rano Karno. Tentu saja sebuah contoh diberikan dengan harapan agar si murid mau meniru. Asu! Kata hatiku lagi. Contoh kok bintang film. Ini kehidupan sejati, Bung, bukan film. Lebih dari itu, alangkah stafnya jika seorang Kepala Dinas yang kebijakan-kebijakannya didasarkan pada contoh-contoh yang diberikan oleh bintang film.

Sekian saja dulu, saudaraku. Semoga surat ini tak mengganggu sibukmu yang teramat sibuk itu. Ini hanya surat. Tetapi meski hanya, tak hilang harapanku bahwa pada suatu saat akan menjadi sesuatu yang “hebat”, dan juga menjadi tambahan nilai untuk raport akhirat.

Sakura 225, 30 September 2012 – 23:38

Thursday, September 27, 2012

Tinta Telah Kering


apa yang engkau sombongkan
sedangkan tinta telah kering
apa yang engkau risaukan
sedangkan tinta telah kering
apa yang engkau takutkan
sedangkan tinta telah kering
apa yang engkau sedihkan
sedangkan tinta telah kering
apa yang engkau banggakan
sedangkan tinta telah kering

dan jauh sebelum itu semua
adalah pancaran cahaya
sebagian mendapat banyak
sebagian sedikit
sebagian lagi
tidak mendapat apa-apa

maka sekali lagi aku tanyakan
apa guna segala benda
apa guna segala bangga
apa guna segala angkara
apa guna segala kecut dan kecewa
jika cahayalah yang utama dari segala

Sakura 225, 26 September 2012 - 23:20

Majelis Kebangkitan

Jika suhu mempunyai penggaris bernama termometer; jika tekanan mempunyai penggaris bernama barometer; jika massa mempunyai penggaris bernama neraca; jika kebohongan mempunyai penggaris bernama lie detector; jika dedikasi mempunyai penggaris bernama daftar hadir alias buku absen, bahkan cahaya pun mempunyai penggaris bernama  lux meter, dan jika hampir segala hal dalam zaman yang gila detail ini masing-masingnya mempunyai penggaris sendiri-sendiri, tidak demikian halnya dengan kebodohan.

Orang akan bilang bahwa raport atau indeks prestasi sebagai penggarisnya kebodohan, mengingat naik atau tidak naik kelasnya seorang siswa dilihat berdasarkan nilai raport; mengingat tepat atau tak tepat waktu lulusnya seorang mahasiswa dinilai dari nilai indeks prestasi.

Tepatkah demikian? Sesungguhnya bukan. Cukup banyak manusia-manusia sukses yang pernah tidak naik kelas atau bahkan yang tidak tamat kuliah.

Maka bingunglah Soleman sepanjang satu jam dalam ruang persegi tempat tukang cukur itu mengumpulkan nasi bagi anak, istri, dan dirinya sendiri: penggaris bernama apa yang akan dia pakai untuk mengukur kebodohan satu orang tukang cukur beserta tiga orang calon “pasiennya” itu?

Kebingungan Soleman bermula dari kebingungan seorang teman yang ndak sempat-sempat memendekkan rambut, sedangkan sang teman adalah seorang guru yang jelas rambut panjangnya tak boleh ditiru oleh anak-anak didiknya. Jadi, keberadaan Soleman di ruang persegi itu hanyalah untuk menemani seorang teman, dan Soleman sama sekali tidak pernah berharap bahwa selama masa menemani itu ia terpaksa harus mendengarkan ocehan tiga orang bodoh tanpa bisa berkata sepatah kata pun. Rumusnya jelas: tanggapan terhadap ocehan orang bodoh adalah diam.

Bagaimana tidak bodoh kalau satu dari tiga orang tersebut menyatakan bahwa MTA mengharamkan tahlilan dan menghalalkan zina. Bagaimana tidak bodoh kalau dua dari tiga orang tersebut mengamini pernyataan tersebut. Kemudian ketiganya secara bergantian dan kadang secara berbarengan sahut-menyahut dengan komentar-komentar yang benar menurut kebodohan mereka masing-masing.

Bagaimana tidak bodoh kalau satu dari tiga orang tersebut menyatakan bahwa MTA mengharamkan kenduri dan menghalalkan anjing, babi, maupun anjing sekaligus babi. Bagaimana tidak bodoh kalau dua dari tiga orang tersebut mengamini pernyataan tersebut. Kemudian ketiganya secara bergantian dan kadang secara berbarengan sahut-menyahut dengan komentar-komentar yang benar menurut kebodohan mereka masing-masing.

Bagaimana tidak bodoh kalau satu dari tiga orang tersebut menyatakan bahwa ia pernah melihat ada orang MTA yang membuang ke tempat sampah seketika itu juga ketika nasi kenduri diantarkan ke rumahnya. Lebih bodoh lagi, dua dari tiga orang tersebut masing-masingnya mengaku juga pernah melihat hal yang serupa. Seakan-akan insiden “nasi kenduri masuk tempat sampah” itu merupakan hal yang pasti dan selalu dilakukan oleh orang MTA, dan seakan-akan masing-masing dari tiga orang tersebut adalah waliyullah yang ditugaskan khusus untuk menyaksikan secara langsung orang MTA membuang nasi kenduri ke tempat sampah.

Setelah puas bersahut-sahutan, satu dari tiga orang tersebut mengambil konklusi, “Rupanya mereka bercita-cita menjadi Nabi.”

Soleman berpindah kursi. Sebatang matahari ia selipkan di sudut bibirnya. Sambil menyandarkan kepalanya, cc demi cc asap ia kepulkan dari cerobongnya. Orang MTA-kah Soleman?

Tentu bukan. Jangankan digolongkan sebagai orang MTA, digolongkan sebagai orang saja belum tentu. Lagipula, dari kepulan asap dari mulut Soleman, Soleman lebih dekat untuk digolongkan sebagai orang NU, meskipun dengan bersungguh-sungguh Soleman berkata bahwa ia lebih baik disebut sebagai orang-orangan sawah daripada disebut sebagai orang NU.

Jadi apa sebab Soleman mengepulkan asap dan menyandarkan kepalanya? Fitnahlah yang menyebabkan kepala Soleman bertambah beratnya. Lho, bukankah Soleman bukan orang MTA, jadi mengapa ia merasa susah?

Soleman jauh dari pantas untuk disebut beriktikad membela Islam, tetapi kalau keutuhan umat Islam terganggu oleh upaya adu domba melalui fitnah-fitnah picisan yang disulut oleh “pemuka-pemuka” agama Islam yang ketakutan kehilangan pengikut dan sekaligus kehilangan pendapatan, Soleman tidak bisa untuk tidak tersinggung. Bagaimana tidak tersinggung, sedemikian hebat Muhammad saw. menderita demi keutuhan umatnya, lha kok yang dibela-belain malah berlomba-lomba memecah diri. Untung Soleman sudah cukup terlatih untuk menyalurkan ketersinggungannya itu melalui kepulan asap rokoknya.

Soleman memejamkan mata, “Ya Allah, siapakah pembawa kayu bakar sekaligus penyulut api fitnah ini, yang sedemikian berhasil membakar akal sehat sedemikian banyak orang?

Dalam pejaman mata, Soleman mendengar suara, “Heran saya, kok MTA tidak dilarang oleh Pemerintah?”

Mendengar suara itu Soleman tersenyum, “Nah, inilah penggarisnya: Pemerintah tidak melarang MTA karena MTA memang tidak pernah menyatakan bahwa Allah menghalalkan zina, anjing, babi, zina dan babi, zina dan anjing, anjing dan babi, atau zina sekaligus anjing sekaligus babi. Dan tidak ada orang MTA yang membuang nasi kenduri ke tempat sampah karena yang bukan orang MTA jelas tidak mau mengantarkan nasi kenduri ke rumah orang MTA.”

Melihat Soleman tersenyum sendiri, sang teman yang sedang antri untuk dibabat rambutnya memandang Soleman dengan ekspresi mohon penjelasan. Yang dipandang hanya menjawab pendek, “Fitnah itu ternyata mengasyikkan, dan kebodohan yang membungkus fitnah itu ternyata menggelikan.”

Dalam perjalanan pulang dari tempat cukur, sang teman menyampaikan sebuah pemikiran, “Jangan-jangan mereka mengira kita orang MTA, karena kita tidak berkicau ketika mereka berkicau?”

Soleman menjawab, “Masak orang MTA merokok? Tapi bisa juga sih mereka mengira begitu, lha wong zina saja dihalalkan oleh MTA, pasti merokok lebih dari itu, sangat amat halal sekali. Ah, ndak masalah siapa saja mau mengira kita sebagai apa saja. Lha wong saya ini dikira sebagai orang kafir, orang munafik, orang ndak jelas, atau orang-orangan sawah pun ndak masalah. Tapi saran saya, melihat bahwa domba yang sedang diadu adalah NU dan MTA, orang-orang itu sebaiknya mengira saya sebagai orang MK, Majelis Kebangkitan. Majelis diambil dari M-nya MTA, Kebangkitan diambil dari N-nya NU.”

Nahdhah itu artinya kebangkitan, majlis itu artinya tempat duduk. Maka menjadi jelaslah urutannya sekaligus urusannya: untuk bisa disebut berposisi bangkit, orang terlebih dahulu harus berada dalam posisi duduk.

Sakura 225, 26 September 2012 – 23:41

Di Ketiaknya Aku Berlindung


Engkau telah mendapatkan pelajaran besar bahwa apa yang tampak baik di permukaan matamu tidak bisa dijadikan pegangan. Ya, engkau telah mendapatkan pelajaran itu. Maksudku, engkau sudah pernah membaca teks pelajaran itu, tapi konteks pelajaran besar itu, ya baru kemarin itu engkau dapatkan.

Maka Ibrahim-lah engkau. Maksudku, engkau seperti Ibrahim yang ilmu kepasrahannya diteguhkan dengan kenyataan bahwa burung yang disembelih dan dipotong-potong dan masing-masing bagiannya diletakkan di tempat terpisah dan berjauhan pun bisa digabungkan kembali dan dihidupkan.

Maka burung yang disembelih dan dipotong-potong dan disaling jauhkan itulah engkau. Maksudku, engkau seperti burung yang disembelih itu. Jalur udara dan jalur makan-minummu dipotong. Harapan-harapan dan cita-cita dalam kepalamu dipotong seiring dengan terpisahnya kepala dari lehermu. Atau leher dari kepalamu. Darah gairahmu menetes keluar hingga tetes penghabisan. Otot-otot daya ciptamu lemas kemudian membeku. Urat-urat kesadaranmu kaget kemudian pingsan. Tapi insya Allah tidak lama, karena juga tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk menggabungkan dan menghidupkan kembali burung Ibrahim.

Maka Musa-lah Engkau. Maksudku, engkau seperti Musa yang pingsan di hadapan wajah Tuhan. Tetapi setelah bangun, tiba-tiba tongkatmu menjadi menjadi ular raksasa. Dan dari ketiakmu memancar cahaya.

Tetapi, seperti tidak berarti sama. Maka engkau bukan Ibrahim, bukan pula Musa. Kalau burung, mungkin iya. Dan karena engkau burung, maka terimalah kenyataan yang telah terjadi: engkau diburu dan dijadikan sasaran peluru.

Tentang burung, ada tiga pilihan untukmu. Pertama, berlatihlah terbang secepat buraq. Kedua, tirulah tongkat Musa: ketika pemburu membidikmu, berubahlah jadi ular untuk kemudian memangsa pemburumu. Ketiga, bersaranglah di ketiak Musa.

Tentu engkau memilih yang pertama atau yang kedua. Karena, bukankah kesaktian merupakan hal yang diidam-idamkan banyak orang? Apalagi jika kesaktian itu didapatkan dengan cuma-cuma; didapatkan dengan tanpa pengorbanan apa-apa. Tetapi bukan kesaktian semacam itu yang dikehendaki Tuhan untukmu. Biarlah yang burung tetap burung, biarlah yang ular tetap ular. Sedangkan buraq, biarlah kecepatan itu ia miliki sendirian. Tak usah dengki tak usah iri. Masing-masing disediakan jatahnya sendiri.

Maka, wahai burung, bersaranglah di ketiak Musa. Pada zaman puncak gelap gulita ini, jangankan engkau, cahaya pun memilih untuk berlindung di ketiak Musa.

Sakura 225, 11 September 2012 – 16:11

Tuesday, September 18, 2012

Maka Teruslah Bersabar

Soleman terperanjat. Secara hakikat, bisik suara dari seberang sana, tugasmu bukanlah bekerja. Lihatlah, pekerjaan macam apakah penyuluh keluarga berencana itu? Sesuaikah itu dengan proses perjalananmu dalam menuntut ilmu?

Tengoklah ke belakang. Empat tahun engkau ditempa dalam samudera bahasa Arab. Kemudian engkau berlabuh sejenak. Setelah itu, karena telah kau kuasai jalur layar samudera itu, engkau diberi jalur berikutnya. Empat tahun pula, dan kenyanglah engkau “makan” Alquran.

Memang jalur layar baru itu belum sepenuhnya kau kuasai. Tapi setidaknya, engkau sedikit lebih benar-benar tahu jalur itu daripada orang-orang yang sok tahu tentang Alquran itu. Engkau pernah berlayar di atas samudera Alquran, sedangkan kebanyakan mereka tahu samudera Alquran hanya dari qiila wa qaala; dari “katanya”.

Kembali kepada masalah pekerjaan, jika ada alasan bahwa dipilihnya sarjana agama untuk mengisi formasi penyuluh keluarga berencana adalah agar bisa lebih sukses dalam melakukan pendekatan dengan tokoh-tokoh agama yang salah satu metode pendekatannya adalah dengan “mempersembahkan” ayat-ayat Alquran yang proKB, maka alangkah murahnya “harga” Alquran. Sedangkan engkau tahu, dengan keras Tuhan mengecam sekaligus mengancam orang-orang yang “membeli” (dan kemudian “menjual”) ayat-ayat Alquran dengan ”harga yang murah”.

Alasan semacam itu teramat sangat remeh dan sepele. Sekaligus membingungkan. Bagaimana tidak. Kebanyakan tokoh-tokoh agama itu adalah batu: sekali mereka temukan ayat Alquran yang berdasarkan penafsiran mereka sendiri bersifat menguntungkan mereka, selamanya akan mereka genggam erat ayat itu. Tak ada sedikitpun ketertarikan mereka untuk memperlakukan ayat-ayat Alquran secara adil.

Karena batu, maka berbondong-bondonglah orang-orang tak berilmu memberhalakannya. Dasarnya sama: batu-batu itu menguntungkan mereka.

Jadi, tanpa bantuan dan kehendak Tuhan, apa daya seorang sarjana agama sepertimu untuk mengubah batu menjadi manusia? Sedangkan Musa saja terheran-heran melihat tongkatnya menjelma naga.

Maka semoga tidak salah kabar yang kuterima ini, bisik suara dari seberang sana itu sekali lagi. Tugasmu bukanlah bekerja sebagaimana lazimnya orang bekerja. Tugasmu yang sesungguhnya adalah berdakwah. Mengajak orang kembali kepada kebaikan-kebaikan yang bentuk dan modelnya terjabarkan dalam Alquran.

Itulah mungkin sebabnya engkau “diselundupkan” ke dalam sebuah sistem, yang dalam hal ini adalah sistem kepemerintahan sebuah daerah. Karena kebanyakan orang-orang yang berada dalam sistem itu sudah sejak lama pergi meninggalkan kebaikan. Tak percaya? Bukankah di manapun letakmu dalam lingkaran sistem itu, selalu kaualami kenyataan bahwa hak-hakmu dicuri pada siang hari dan pencurian itu dilakukan di depan matamu sendiri? Bukankah ada kenyataan yang baru saja terjadi bahwa engkau dijebak untuk tenggelam ke dasar sumur konspirasi tingkat tinggi?

Dakwah tidak harus dengan kata-kata. Keteguhan dan kerendahan hatimu, serta caramu “meremehkan” uang dan kekuasaan, dengan perkenan dan bantuan Tuhan, serta seiring dengan perjalanan waktu, akan dapat membuka mata sebagian dari mereka sehingga dengan terpaksa ataupun dengan sukarela mereka akan kembali kepada kebaikan-kebaikan yang telah dan terus diajarkan Tuhan melalui Alquran.

Ini hanya kabar. Dan kabar, sebagaimana harta ataupun segala yang bersifat fana, tidak pernah punya hak untuk dijadikan sumber kebanggaan. Justru waspadalah engkau: bekerja sebagaimana lazimnya orang bekerja adalah hal yang lebih mudah dikerjakan daripada berdakwah.

Karena itulah tugasmu, maka teruslah bersabar. Hattaa ya’tiyallah bi amriHi.

Sulaiman berdakwah melalui hilangnya cincin kerajaan. Ibrahim berdakwah melalui pedang untuk menyembelih putranya sendiri dan melalui kobaran api. Yusuf berdakwah melalui hari-hari gelap dalam dasar sumur dan dalam pengap penjara. Ayyub berdakwah melalui sakit keras yang hampir melelehkan hatinya. Isa berdakwah melalui pengkhianatan muridnya. Muhammad berdakwah melalui pasir yang ditaburkan ke atas kepalanya dan melalui kotoran unta yang setiap hari dihidangkan di depan pintu rumahnya.

Karena itulah contohnya, maka teruslah bersabar. Inna nashrallah qariib.

Sakura 225, 18 September 2012 – 19:37